Rabu, 29 Februari 2012

0 RDA dan AACR2


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Oleh: Maeny Risdhi

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

a. Resource Description and Access (RDA)

1.  KONSEP DAN DEVINISI 

Anglo-American Catalogung Rules atau yang dikenal dengan AACR merupakan suatu standard pengatalogan deskriptif yang dipakai oleh banyak negara dan telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa. Resource Description and Access atau RDA adalah suatu standar untuk deskripsi dan akses baru yang dibuat untuk menggantikan AACR pada tahun 2009. RDA akan diterapkan di Australia, Selandia Baru, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. RDA juga akan diadopsi oleh Jerman dan Perancis yang saat ini masih menggunkan bahasa pengatalogan deskriptif tersendiri.
RDA dikembangan sebagai sarana pengatalogan generasi baru yang didesain untuk dunia digital. RDA akan berisi instruksi untuk pendeskripsian semua jenis material, termasuk versi digital dan online. Deskripsi akan dapat digunakan dalam lingkungan digital dalam katalog web-based dan layanan penelusuran. Standar RDA dirilis sebagai web-based tool dan bukan tercetak seperti AACR sekarang ini.
RDA dirilis tidak dalam format tercetak seperti AACR tetapi sebagai web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dan bisa dicustomised sesuai dengan besar-kecilnya perpustakaan, jenis perpustakaan, kebijakan perpustakaan, dll. Meskipun terdapat banyak perubahan signifikan, RDA dibangun di atas fondasi AACR yang telah lama digunakan oleh pustakawan untuk menghasilkan jutaan records di seluruh dunia sejak diterapkan lebih dari beberapa dekade.
RDA dibuat berdasarkan model konseptual Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR), Functional Requirement for Authority Data (FRAD), dan Functional Requirement for Subject Authority Records (FRSAR). Model ini merupakan konsep entities, relationship, and attributes atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA. Model konseptual dipandang lebih relevan di era informasi saat ini karena dapat membantu memahami domain yang digambarkan.

b. Anglo-American Cataloguing Rules ( AACR )

AACR merupakan sebuah aturan dasar yang dibuat untuk dapat membantu memudahkan kinerja pustakawan dalam proses
katalogisasi, aturan-aturan ini mencakupi seluruh deskripsi dalam bibliografi
sebuah hasil karya, ditujukan untuk keseragaman dalam proses akses poin serta
pengolahan buku yang akan digunakan oleh para pengguna jasa di perpustakaan, di Inggris, Australia,Kanada, dan Amerika.
AACR2 sudah diadaptasi oleh berbagai
perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia dan digunakan hampir di 56 negara.

B. SEJARAH
            a. SEJARAH AACR2 ( Anglo-American Catalogue Rules ).
            AACR dikembangkan di era katalog kartu dan banyak terminologi dalam AACR yang digunakan saat ini masih merefleksikan situasi tersebut, seperti misalnya “heading”, “main entry”, dan “added entry”. Modifikasi istilah sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dianggap belum cukup untuk menjadikan AACR relevan dengan dunia digital.

1. AACR2 pada tahun 1978

·         Pada tahun 1974 Bersama Komite Pengarah untuk Revisi AACR (JSC) didirikan, dengan keanggotaan dari American Library Association, British Library, Canadian Library Association (diwakili oleh Komite Kanada pada Katalog), Asosiasi Perpustakaan, dan Perpustakaan Kongres.
·         JSC didakwa dengan menggabungkan Amerika Utara dan teks Inggris ke dalam satu versi. JSC menunjuk dua editor untuk kode direvisi, Michael Gorman dari British Library, dan Paul W. Winkler Perpustakaan Kongres.
·          Anglo-Amerika Katalog Aturan, edisi kedua (AACR2) diterbitkan dalam satu versi tahun 1978.
·          AACR2 dibagi menjadi dua bagian:




Bagian I, Keterangan
1.    Berdasarkan kerangka (G) ISBD.
2.    Termasuk bab yang umum (Bab 1), dan bab untuk format individu, termasuk bab baru untuk file data dapat dibaca oleh mesin (bab 9) dan artefak tiga-dimensi dan realia (Bab 10).
3.    Aturan untuk bahan non-buku didasarkan pada kode alternatif yang diterbitkan pada tahun 1970.
Bagian II, Entry dan Heading
1.      Aturan dibawa lebih dekat ke sesuai dengan Prinsip-Prinsip Paris.
2.    AACR2 diadopsi oleh Library of Congress, Perpustakaan Nasional Kanada, British Library, dan National Australia Perpustakaan pada bulan Januari 1981.
3.    Pada tahun 1981 sebuah versi singkat, yang AACR2 Concise diterbitkan .
4.    Revisi AACR2 diadopsi pada tahun 1982, 1983 (diterbitkan 1984), dan 1985 (diterbitkan 1986).
5.    Sebuah draf revisi bab AACR2 9 (nama: Komputer File) diterbitkan pada tahun 1987.
6.    Dari tahun 1981 Komite Australia pada Katalog (ACOC) perwakilan dikirim ke pertemuan JSC, dan dari tahun 1986 ACOC menjadi anggota JSC penuh.
2. REVISI AACR2 TAHUN 1988

Ä Revisi 1988

  • Revisi tahun 1988 AACR2 dimasukkan tahun 1982, 1983, dan 1985 ditambah revisi revisi diterbitkan berikutnya.
  • Revisi tahun 1988 diterbitkan dalam kedua buku dan format longgar-daun.
  • Satu set dari perubahan diterbitkan pada tahun 1993.

Ä Revisi 1998

  • Revisi tahun 1998 AACR2 dimasukkan tahun 1993 perubahan, dan revisi disetujui antara tahun 1992 dan 1996 .
  • Revisi tahun 1998 diterbitkan dalam buku dan format CDROM.
  • Perubahan paket diterbitkan pada tahun 1999 dan 2001. Perubahan tahun 2001 termasuk revisi lengkap dari bab 9 (nama: Electronic Resources).

Ä Revisi 2002

  • Revisi tahun 2002 AACR2 memasukkan dan 2001 amandemen 1999, dan perubahan yang disetujui pada tahun 2001, termasuk revisi lengkap dari bab 3 (Cartographic Bahan) dan pasal 12 (berganti nama menjadi: Melanjutkan Sumber) .
  • Revisi bab 12 berasal dari rekomendasi dari Konferensi Internasional tentang Masa Depan dan Pengembangan Prinsip AACR , dan-memimpin upaya IFLA untuk menyelaraskan ISBD (CR), ISSN praktek, dan AACR2.
  • Pada tahun 2002 AACR diterbitkan hanya dalam format longgar-daun.
               b. SEJARAH RDA (Resource Description and Access ).
Suspensi bekerja pada pembangunan RDA adalah kontra-produktif untuk memberikan manfaat masa depan untuk kedua perpustakaan komunitas internasional dan Amerika dari produk ini, dan dengan demikian kita akan melanjutkan dengan perkembangan RDA Perpustakaan. Kolaborasi dengan masyarakat internasional yang berada di luar Amerika Serikat, melakukan sumber daya yang cukup - usaha manusia, penilaian cerdas dan evaluasi belum lagi dukungan finansial - telah dikeluarkan pada pengembangan RDA. Sebagai contoh, JSC telah melakukan diskusi dengan ONIX, DCMI, dan tepat teknologi Web semantik kelompok. Tiga rekomendasi untuk pekerjaan lebih lanjut yang dihasilkan dari pertemuan ini, namun mengidentifikasi sumber pendanaan untuk bergerak maju. Ini mengulangi keprihatinan pada yang akan mendanai sebuah kelompok baru untuk melakukan pengujian FRBR.
Rekomendasi ditemukan di 4.2.1 (Mengembangkan Rencana Uji FRBR) tampaknya menyiratkan bukti pengujian konsep. Namun, pengujian FRBR telah dilakukan dengan menggunakan data yang ada dibuat sesuai dengan standar yang ada (misalnya pekerjaan OCLC's, Virtua, VisualCat, LibDB, Perseus Digital Library, RedLightGreen, FRBR Floater). Beberapa proyek juga diuji FRBR dalam kaitannya dengan yang baru dibuat data yang konsisten dengan FRBR (Austlit misalnya) Tanpa tubuh besar data yang dibuat menggunakan model FRBR (yang adalah apa RDA akan melakukan).
C. DAFTAR PERUBAHAN DI AMANDEMEN TAHUN 2005

Detil Daftar Perubahan Perubahan 2005

Rule Aturan
Action Tindakan
1.1C1, footnote 2 1.1C1, catatan kaki 2
Updated Diperbarui
2.5C3 2.5C3
Updated Diperbarui
3.0D 3.0d
Updated Diperbarui
3.3B7 3.3B7
Updated Diperbarui
App. App. A: contents at A.30 J: isi di A.30
Updated Diperbarui
A.2A1 A.2A1
Updated Diperbarui
A.4A1 A.4A1
Updated Diperbarui
A.30A A.30A
Updated Diperbarui
A.40 A.40
Updated Diperbarui
App. App. D: Coloured illustration D: ilustrasi diwarnai
Updated Diperbarui
E.1A: "bir Turkish" E.1A: "bir Turki"
Deleted Dihapus


 

D.  Sosialisasi Grand Design e-Library

Dalam rangka pembangunan Perpustakaan Digital Nasional Indonesia, Perpustakaan Nasional RI, mengadakan sosialisasi Grand Design e-Library dari tanggal 14 s.d. 16 Oktober 2010, bertempat di Grand Mahkota Hotel, Pontianak. Sosialisasi ini diikuti oleh seluruh kepala perpustakaan mitra, yang terdiri dari 31 perpustakaan provinsi, 2 UPT Perpustakaan Nasional, dan 2 perpustakaan umum kabupaten/kota.Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, yang diwakili oleh Deputi I Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Dra. Hj. Lilik Soelistyowati, MM. Dalam sambutannya, Lilik Soelistyowati, mengatakan bahwa, grand design e-library dimaksudkan sebagai:

“Jaringan perpustakaan bersekala nasional yang beranggotakan berbagai jenis perpustakaan di Indonesia menyediakan sumber informasi dalam format digital, menyediakan akses digital ke berbagai jenis koleksinya, dan menyelenggarakan layanan digital untuk dapat dimanfaatkan secara bersama dalam rangka memenuhi kebutuhan pemustakanya secara gratis”.

Ä  Beberapa hal yang melatar belakangi perlunya Grand Design          e-Library ini antara lain:

1.    Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Salah satu tugas Perpustakaan Nasional RI adalah sebagai pusat jejaring perpustakaan di Indonesia yang memberikan akses informasi kepada seluruh masyarakat.

2.     Inisiatif pembangunan World Digital Library (WDL) yang dibahas dalam UNESCO Experts Meeting on the World Digital Library menghendaki PERPUSNAS RI sebagai fasilitator nasional.

3.     Potensi koleksi perpustakaan yg bernilai tinggi, tersebar di berbagai lokasi.

4.     Pembentukan database BIN dan KIN belum optimal .

5.     Belum terbentuknya jejaring perpustakaan dalam rangka resource sharing.

6.     Belum sepenuhnya terwujud pengalih mediaan berbagai kekayaan warisan budaya utk preservasi dan daya tarik wisata.

7.     Pesatnya Perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)Internet,

 antara lain:

·         Global Network.

·          High Speed Computing – Distributed System,Mobile Computing.

·          Teknologi Internet.

 

 

Ä  Berdasarkan latar belakang tersebut, Grand Design e-Library ini disusun dengan tujuan strategis antara lain:

1.    Meningkatkan akses ke sumberdaya informasi tersedia dan layanan perpustakaan yang diselenggarakan oleh seluruh perpustakaan yang tergabung dalam jaringan (resource sharing).

2.     Mempromosikan pemahaman dan kesadaran antarbudaya dalam lingkup nasional, menyediakan sumber belajar, mendorong ketersediaan bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya setempat (local content).

3.     Melestarikan sumber informasi tentang budaya Indonesia.

4.     Mendukung penelitian ilmiah melalui Internet.

E. KEUNTUNGAN
            1. KEUNTUNGAN AACR2
                        Keutamaan dalam pengolahan buku ditujukan pada temu balik informasi yang juga digunakan oleh para pengguna, kelebihan dan keutamaan dalam pengolahan koleksi yang baik dan benar membuat enam hal yang memberikan dampak positif terhadap pemakainya.
Enam hal itu adalah:
    1. Relefan
    2. Akurat
    3. Tepat Waktu
    4. Ekonomis
    5. Efisien
    6. Dapat Dipercaya
               Keenam hal ini akan memberikan informasi dan sangat bermanfaat bagi pemakainya, dengan keakuratan sehingga bebas dari kesalahan dan tidak menyesatkan para pengguna jasanya, selain itu kebutuhan informasi juga harus tepat waktu dan mempunyai nilai yang baik, sehingga memudahkan dari pemanfaatan penggunanya dan juga menguntungkan pada segi pembiayaan dan lainnya. Aturan-aturan yang berlaku seharusnya dipahami, dimengerti dan juga dilaksanakan dalam perpustakaan, sehingga pemakai jasanya dapat memanfaatkan koleksi sebaik-baiknya.
2. KEUNTUNGAN RDA
               RDA membawa perpustakaan bergerak maju menuju era digital dengan menyediakan instruksi untuk pengatalogan bahan digital dan non digital. Semuanya didasarkan pada AACR2, yang berfokus pada kebutuhan pengguna agar mudah mencari, mengidentifikasi, memilih, dan mendapatkan bahan yang mereka butuhkan, dan mendukung berbagi metadata yang berbeda dilayanan online.
1.      RDA adalah sebuah standar baru untuk mendeskripsikan sumber daya dan akses informasi yang dirancang untuk dunia digital;
2.      RDA berfokus pada deskripsi sumber daya informasi, BUKAN untuk bagaimana menampilkan informasi. Pengguna dapat menggunakan konten RDA dengan berbagai skema pengkodean, misalnya MODS (Metadata Objek Descriptions Standard), MARC 21 atau Dublin Core.;
3.      RDA bersifat adaptif dan fleksibel, sehingga memungkinkan digunakan oleh masyarakat informasi lainnya di luar perpustakaan;
4.      Ketentuan RDA dapat disesuaikan, sehingga dapat digunakan untuk mengatalog jenis bahan perpustakaan yang spesifik;
5.      RDA meningkatkan efisiensi pengatalogan bahan format khusus – melalui “online tools” dapat ditemukan semua aturan yang diperlukan sesuai dengan jenis bahan apa yang akan dikatalog;
6.      RDA memungkinkan pengguna untuk menambahkan sendiri cantuman online. Demikian pula, aturan interpretasi dan kebijakan kelembagaan atau jaringan dapat terintegrasi dengan RDA-online;
7.      RDA memungkinkan diintegrasikan dengan vendor produk (penerbit), sehingga memudahkan kerja pengatalog.

F. RDA Resmi Gantikan AACR2

Resource Description and Access atau RDA resmi menggantikan AACR, setelah mulai di implementasikan tahun 2010 oleh perpustakaan di AS, Inggris, Kanada, Selandia Baru, Australia dan akan menyusul Jerman dan Perancis. Negara-negara lainnya di Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China masih dalam proses persiapan pengimplementasian sistem ini, mungkin termasuk juga PNRI.
RDA dirilis tidak dalam format tercetak seperti AACR tetapi sebagai web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dan bisa dicustomised sesuai dengan besar-kecilnya perpustakaan, jenis perpustakaan, kebijakan perpustakaan, dll. Meskipun terdapat banyak perubahan signifikan, RDA dibangun di atas fondasi AACR yang telah lama digunakan oleh pustakawan untuk menghasilkan jutaan records di seluruh dunia sejak diterapkan lebih dari beberapa dekade.
            AACR yang selama ini digunakan dibuat berdasarkan pengkategorian jenis bahan pustaka. Dalam AACR ada bab-bab khusus untuk buku, terbitan berseri, sound recording, motion pictures, electronic resources, dll. Struktur masing-masing bab dibuat berdasarkan 8 area yang ada dideskripsikan dalam ISBD. Saat ini, perbedaan jenis pustaka semakin kabur seiring perkembangan teknologi informasi dan multimedia.
RDA dibuat berdasarkan model konseptual Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR), Functional Requirement for Authority Data (FRAD), dan Functional Requirement for Subject Authority Records (FRSAR). Model ini merupakan konsep entities, relationship, and attributes atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA.
Model konseptual dipandang lebih relevan di era informasi saat ini karena dapat membantu memahami domain yang digambarkan.

 Dalam RDA tugas cataloguer antara lain:
1.         Mengidentifikasi dan mendefisinikan hal-hal yang penting (entities)
2.  
 Mengidentifikasi dan mendefinisikan hubungan (relationship) antar entities
3. 
    Mengidentifikasi dan mendefinisikan attribute yang merupakan karakter dari  .   .         entites
Landasan RDA
RDA dikembangkan oleh International Federation Library Associations and Institutions (IFLA) atas dasar:
  • The International Cataloguing Principles (ICP),
  • Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR)
  • Functional Requirements for Authority Data (FRAD),
  • International Standar for Bibliographic Description (ISBD)
Struktur RDA
RDA dikelompokan menjadi tiga model konseptual:
I.    FRBR atau konsep entitas.
Terdiri dari:
·         Work, core elements.
·          Expression, core elements.
·          Manifestation, core elements.
·          Item.
II.    FRAD
Terdiri dari:
·         Persons.
·         Families.
·         Corporate Bodies
III.   FRSAR
Terdiri dari:
·         Concepts
·         Objects
·         Event
·         Places

Pada RDA penekanan pada relationships juga diutamakan, antara lain:
1.
  Kaitan antara entitas kelompok FRBR yang terhubung dengan resource
2.   Hubungan antar masing-masing karya intelektual
3.   Hubungan antara suatu karya dan penciptanya
4.   Hubungan antara persons, families, dan corporate bodies


DAFTAR  PUSTAKA

http://www.rda-jsc.org/cop-lcwgbibcontrol.html

http://www.rda-jsc.org/2005amend.html

http://kolordwijo.wordpress.com/2010/09/23/anglo-american-cataloguing-rules-aacr-tamat-resource-description-and-access-rda-pemenangnya/:
file:///E:/elementary%20grammar/RDA.htm


0 komentar:

Poskan Komentar